Hidup itu, lucu ya. Ia siapkan ruang untuk mendulang dongeng-dongeng yang katanya warna-warni, namun kemudian dibiarkan seolah perjanjian itu tak pernah terjadi. Termakan tipuan dunia. Ia tidak ingin merakit dongeng, tidak ingin menjadi dongeng untuk orang lain atau dirinya sendiri.
Yeremiah, anakku.
Kalau kamu menerima pesan ini, maka ini adalah kiriman terakhir yang bisa papa kasih ke kamu.
Waktu terkejar, angka pada kalender bertambah, namun ia tak merasakan ada hal yang berubah. Ia tak tahu malam, tak tahu siang, tak tahu jika ia masih berpijak di atas lautan tipu daya suram. Hari-harinya adalah mimpi kelam yang terus ia sumpahi untuk segera usai.
Hidup dengan baik ya, Nak.
Mereka berdatangan secara acak. Perasaan tercekik, rabaan pada sekujur tubuh, atau sengatan kilas balik yang akan membuatnya berteriak setiap kali mereka datang tanpa permisi.
Jangan seperti Papa, jangan seperti Mama.
Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah sebuah senyum lebar yang tak pudar walau siang dan malamnya hanya dipenuhi raungan.
Papa minta maaf.
Ia tidak yakin apakah ia mengingat sebuah ajakan untuk pindah tinggal bersama waktu itu, agar ia tak sendirian di rumah yang terakhir dilihatnya berupa antah berantah. Namun ia menolak. Ia takut bertemu dengan orang, takut jika mereka bertanya, takut jika ia harus menjawab, dan takut jika semua itu hanya akan membuatnya terus teringat. Jadi ia tetap tinggal, dengannya yang ikut tinggal bersama dan mengurus kesehariannya.