Lelampuan dengan kedipan abstrak berkilauan menjadi daya pikat utama. Ruangan dengan bass yang menggelegar juga decitan sepatu di atas lantai dansa, aroma campuran parfum dengan keringat maupun alkohol yang tumpah, pun cumbuan kecil yang menghias di sudut-sudutnya.
Sempurna.
Lagaknya tak ada perasaan lain tentang kebahagiaan atas dosa-dosa pemikat surga dunia. Akal sehat tidak berlaku di sana. Mereka melakukan segala yang dikehendaki akal manusia, atau malah akal-akal yang sudah tak begitu bekerja di bawah gelungan alkohol yang memeluk neraka.
Satu dari mereka tampaknya sudah mulai hilang kilau sadarnya. Ponselnya ia lempar ke atas meja saat ia rasa tak dapatkan kesenangan yang ia tunggu dari sana. Ia menggeram dengan jemari tangan yang coba buka kemeja miliknya. Gerah. Namun sepertinya ia lupa jika kancing itu pun sudah ia lepas sedari lalu.
Tubuh itu duduk di salah satu booth kulit hitam di pojok ruangan dengan leher tersandar pada sofa, merasa kepalanya sudah terlalu berat untuk ia sangga. Tangannya terlempar lemas pada sisi kanan dan kiri yang lengket oleh tumpahan minuman. Mulutnya kini menggumamkan lirik lagu yang terputar di ruangan hingga berdengung di telinga, walau setiap kata yang ia gumamkan sudah tak lagi koheren sepertinya.
Otaknya mengacak kilas balik hal-hal tak masuk akal seiring dengan kepalanya yang terasa bergoyang. Tak ada yang benar-benar ia pikirkan. Mungkin sedikit rasa kesal atas si manis incaran yang sudah semingguan ini tak bisa ia sapa. Selebihnya hanya warna-warna bergelombang dari lampu disko yang menembus kelopak mata.
Mungkin ia akan menghabiskan malamnya di sana, sampai sadarnya benar-benar hilang tak lagi ingat dunia. Atau setidaknya hanya angannya saja, karena sebuah tarikan tangan tak terduga membuat mata beratnya harus ia paksa untuk terbuka saat itu juga.
“Heeuyy!!”
Langkahnya yang tak lagi penuh tenaga terseret dengan ujung sepatu yang berkali-kali tersandung segala hal yang ia lewati. Matanya masih menerka-nerka sosok tinggi yang terlihat seperti bayang hitam untuknya. Namun saat akhirnya mereka tiba di luar—tepatnya atas bantuan lelampuan terang juga cahaya bulan, kepalanya berhasil mengidentifikasi wajah yang kini menghadangnya saat ia paksa tarikan itu untuk lepas.
“Hahahah. You again,” ia mundur selangkah hingga punggungnya menyentuh dinding. Ia memaksa tawanya untuk bertahan lebih lama. Setidaknya menertawakan diri sendiri ketika sadar jika dirinya bisa terbawa oleh lelaki yang seharusnya tak perlu membuatnya heran jika ia berakhir di sana.