TRIGGER WARNING!

This story contains themes of emotional distress, self-harm, and suicidal thoughts. Please read it with your own risk.

Ada yang diciptakan sebagai penyembuh, ada pula yang dilahirkan menjadi pembunuh. Garis-garis merah yang panjang, yang terkadang tak terlihat walau nadinya sudah putus berserakan. Atau sebenarnya terlihat, namun ia sudah tidak mampu melihat. Mereka menamakannya luka. Yang datang, mengendap, mengerak, dan abadi.

Apakah memang diciptakan untuk menjadi pembunuh abadi?

Namun katanya, mereka bisa lebur. Katanya, yang terdalam hanya perlu dikubur. Namun pada kenyataannya, mereka hanya membuatnya lebih hancur. Atau pada ikatan tentang dunia yang memiliki alur, dimana yang kuat akan menaiki podium dan yang lemah akan digusur.

Garis-garis berserakan itu tidak akan kering, kiranya. Manakala hujaman ribuan ujung belati tak berhenti merobek diri. Jadi, mana yang bisa dikatakan sebagai penyembuh? Untuk orang lemah yang akan terus jatuh, tenggelam dalam cacian keruh, hingga nyawanya meluruh rubuh.

Genangan rasa sakit yang semakin membesar. Akankah hanya bisa dilewati jika ia turut tenggelam? Atau malah membuat genangan itu melebar hingga menjadi lautan?

Ketika ia hanya bisa memeluk lutut dan meringkuk penuh takut, dengan tubuh gemetar dan napas yang terpompa acak. Tangannya bergerak gusar untuk terus mengusap kulit terbuka yang meninggalkan bayang luka. Apa seharusnya perasaan gila itu hilang saat usapannya berubah menjadi pukulan? Atau saat kuku-kukunya mencakar lantai rumahnya meninggalkan goresan panjang. Bukankah ia telah berusaha untuk membuat genangan itu menjadi lautan? Untuk mendapatkan yang lebih besar, agar perasaan gila yang sedang ia rasakan itu bisa tergantikan.

Air matanya sudah kering, atau mereka saja yang sudah tidak tahu apa lagi guna mengalir jika tak berarti di akhir. Pupil matanya bergerak cepat tak menentu, menyambar segala penjuru walau pada kenyataannya tak ada yang ia tuju. Tenggorokannya terasa tandus. Berulang kali ia coba untuk membasahinya dengan saliva, namun rasanya tak berguna.

Ia memegangi lehernya, sensasi itu masih ada. Cekikan kencang yang menyambangi urat-urat nadinya. Mereka seperti tidak ingin lepas dari sana. Seberapa keras ia coba untuk hiraukan, mereka benar-benar tidak mau pergi.